Juga… Kami adalah fana yang pasti berakhir. Jika waktu adalah musuh tak berhati, maka kematian adalah teman tak bermata.
Waktu tak kan mau berikan kesempatan untuk mengulang, memperbaiki, atau memperbarui. Dia juga tak akan mau percepat dirinya untuk berikan keringanan dalam jalani derita hari yang mendera.
Kematianlah satu-satunya teman yang selalu bermurah hati. Pada akhirnya, dia pasti menemui kita, menjemput jiwa ke dalam ketiadaan. Namun sayangnya, dia tak miliki mata untuk melihat siapa yang didatanginya. Karena tak semua makhluk fana ini, mengharapkan kehadirannya.
Dedicated for: granie. Please rest in peace. Your kindness always live in our memory….
Juga… aku tak pernah ingin kehilangan.
Dunia ini masih terlihat terlalu besar untukku. Aku terbiasa duduk di depan laptopku dan berkeliling menatap dunia melaluinya. Aku terbiasa sendirian di balik dinding dan menutup diriku untuk berbagi.
Karena kehilangan, begitu menyedihkan.
Sesaat aku menutup mataku, menarik napasku, membuat moticon senyuman yang tak pernah terukir secara nyata di wajahku. Aku menutup diriku dari perasaan bersedih. Namun semua itu hanya sebuah topeng yang tak dapat bertahan lama. Dadaku terasa begitu sesak, tangisku memecah kesadaranku. Tubuhku tak mampu diperintah untuk kembali tenang, aku tak sanggup untuk melihat semua ini dari kasta ketidakadilan cipta Illahi para realis yang agung. Aku melihatnya tetap selayaknya sebuah ciptaan yang mengisi rasa sepi, mendengar setiap tawa, terdiam karena kemarahan, menggigit untuk ancaman kecil.
Layaknya barang usang yang mudah dibuang, aku ingin memperlakukanmu seperti itu. Sayangnya, aku tak sanggup melihat tubuh kecilmu hancur oleh arus air kencang, atau remuk dalam mulut pemangsa. Aku ingin melihatmu beristirahat di bawah tumpukan tanah yang akan menutup masaku nanti.
Kelak… apa kita akan bertemu kembali? Seperti halnya dirimu yang sering mendatangi mimpiku?
Jika di suatu masa kita bertemu, cacilah aku yang tak mampu membuatmu melewati masa bahagia di bumi ini. Kutuklah aku karena tak dapat memberimu sebuah kehidupan sewajarnya bangsamu di 2 tahun yang pendek ini. Tapi, beri aku kesempatan untuk dapat memelukmu karena aku pasti akan sangat merindukanmu.
dear Rion,
Tuhan, dengan caranya, menitipkanmu kepadaku. Maaf karena aku tak memperlakukanmu dengan cukup baik. Maaf karena aku yang begitu membosankan. Maaf karena aku begitu sering meninggalkanmu dalam kesendirian.
Walau kau hanya seekor binatang dengan tingkat reproduksi yang sangat tinggi, dengan populasi yang tak kalah tingginya, namun… hanya kamu seekor yang aku kenal. Karena itu, walau kepergianmu tak berpengaruh kepada tingkat populasi bangsamu yang tinggi, tapi… kau akan aku ingat.
Setidaknya, dalam hidupmu, ada seseorang yang mengingatmu. AKU. Ya kan?
Rest in Peace, my beloved Rion…
It’s funny when I heard that, but it’s true.
The story is from a company you called K**. You may heard about level career there. Do you think it’s cool to be promoted almost each year in your career? Yeah, it’s cool when it’s really happened, but it will be pathetic if you stuck on your previous feet.
Here’s the story about them; who living as the bottom line in the food chain; AS*, C*** industry, in 1 of K**.
You know what, we live in a lamentation routin. Each instruction gave by senior is he*l. You say yourself as maid, title bachelor you achieved merely nothing. You feel angry. But when you’re given an area, some areas, you’ll just saying rubish. Still, you only do a lot of lementation.
I start to think, what actually you wanna say? What actually you want to be?
Perhaps you dont feel comfort with all those unpolite things, but nothing’s wrong with them. It’s only one of steps you’ve to through. Those all are your job. So, even you curse them like he*l, please stay still on your feet.
Just try to always remember; you’re so much valued, and it’s enough to make you appreciate on yourself to be survive here.
Goodluck!
It sounds really easy for others, but it’s hard for me. People’s wondering how leaves in here, well i’m not anymore. It’s not easy for laughing in your worry, it’s shaking my pride, throwing my dignity.
How i tell you, it’s far from my expectation, away from my imagination. It’s totally strict, full of cultures and rules. You have to do these, and not to do those. Making myself torturing, flexibility in me feels hurted.
Say that i’m afraid to be in here, i have many things to cry, but i hold it in my heart. Say that i’m tortured like a slave in here, i have many things to scream for.
I wanna run away from here, but i hold it up, till it passed away. Lets wait… ‘till this thing passed me by.
Endure it till the end, and just let’s see what our result in the end.
I almost forgot about my ambition here, suddenly everythings feels gloomy. I almost forgot… It’s not end yet, and i have thousand things probabilities, opportunities, and hopes. Then, i have nothing to worry anymore. Just make a brave step and think about the sun will never betray me in each day of morning. It will always shining, no matter what…
As simple as that thought, it’s lighting my shoulder up. Feels easier.